Impor Sapi Hidup Indonesia Capai 92 Ribu Ton Lebih hingga Juli

Infoseputarpati.comImpor sapi hidup Indonesia mencapai 92.700 ton sejak Januari hingga Juli 2026. Nilai impornya mencapai US$331 juta atau sekitar Rp5,87 triliun (asumsi kurs Rp17.732 per dolar AS).

Angka itu berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Sapi yang diimpor berasal dari Australia.

“Impor sapi hidup sepanjang Januari—Juli 2026 volumenya itu 92,7 ribu ton. Nilainya itu US$331 juta dan negara asalnya ini seluruhnya dari Australia,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dilansir dari Bisnis.com.

Selain itu, Indonesia juga mengimpor daging lembu hingga mencapai 85.100 ton sepanjang Januari—Juli 2026 dengan nilai US$373,3 juta. Impor berasal dari tiga negara yakni Australia, India, dan Brasil.

“Untuk impor daging jenis lembu ini volumenya mencapai 85,1 ribu ton, nilainya US$373,3 juta. Dan ada tiga negara asalnya untuk yang impor daging jenis lembunya. Yang pertama dari Australia, kemudian dari India, dan juga dari Brasil,” paparnya.

Sedangkan realisasi impor daging sapi beku sebelumnya disebut baru mencapai 43%.

BACA JUGA :   Sekda Jateng Usulkan Kota Lama Diintegrasikan dengan Lawang Sewu

“Kemarin kami sudah memanggil semua importir untuk segera merealisasikan impornya, karena kebanyakan mereka kan baru mencapai 50-an persen. Daging itu kan sebagian masih impor kan. Jadi kita kejar itu,” ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso.

“[Impor] sapi hidup sudah 70%, kemudian yang daging beku 43%. Mudah-mudahan terus ya. Pasokan tercukupi, tetapi kan pasokan mungkin tidak merata. Tidak terdistribusi dengan baik yang harus kita lakukan pembenahannya,” lanjutnya.

Ia menilai pasokan daging sapi sebenarnya cukup, namun belum terdistribusi secara merata ke berbagai daerah. Sehingga harga daging sapi berbeda di sejumlah daerah. Sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan dan memastikan pasokan terjangkau di seluruh wilayah.

“Memang ada daerah yang di atas HET, ada juga yang sama. Tapi terus kita akan pasok, terutama ke daerah-daerah yang mengalami kenaikan,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *