Pati, Infoseputarpati.com – Pemanfaatan tanaman mangrove di Kabupaten Pati diketahui belum maksimal. Hal ini juga terjadi di Desa Tluwuk, Wedarijaksa.
Perlu diketahui sebelumnya, tanaman mangrove ini biasanya ditanam di pesisir wilayah untuk mencegah terjadi adanya potensi abrasi yang sangat tinggi.
Abrasi adalah proses pengikisan tanah yang berada di wilayah pesisir pantai yang disebabkan oleh ombak. Tentu saja, kejadian alam tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja lantaran dapat membuat air laut menggenang di area pesisir.
Bahkan dampaknya dapat mengurangi lahan daratan utama, memperbesar risiko bencana, berkurangnya sumber daya ikan, hingga membahayakan masyarakat yang tinggil di pesisir pantai.
Wilayah Kabupaten Pati sendiri pun mempunyai masalah terkait dengan abrasi. Hal ini pun mendapatkan tanggapan dari wakil rakyat Kabupaten Pati, M. Nur Sukarno.
Bahkan Sukarno mengaku pernah mendampingi kelompok Pokdarwis Karya Pamuji Agung Desa Tluwuk, Wedarijaksa dan Dinporapar Pati melakukan studi banding ke Desa Wisata Mangrove Pandansari di Desa Kaliwlingi Kecamatan, Kabupaten Brebes.
Pria yang duduk di Komisi B itu mengaku dirinya melihat potensi Desa Tluwuk yang daerah pesisirnya banyak dikunjungi oleh warga untuk melepas penat. Hal ini tentu dapat menjadi angin segar bagi warga setempat untuk mengelola wisata.
Namun, hal ini tidak dibarengi dengan ancaman abrasi dari desa yang terletak di Kecamatan Wedarijaksa. Sukarno lantas menyinggung Desa Kaliwlingi yang selamat dari ancaman abrasi setelah menanam mangrove pada tahun 2005 lalu.
“Ini bukti nyata ya, pada tahun 2005 tanaman mangrove (yang ditanam di pesisir pantas) dapat menyelematkan Desa Kaliwlingi,” tutur dia.
Dalam hal ini, Sukarno berharap studi banding di Desa Kaliwlingi dapat membuat warga setempat Desa Tluwuk mempunyai gambaran untuk mengelola wisata tanpa terlepas dari menjaga lingkungan pesisir pantai agar tidak terkena abrasi.
“Tokoh disana pak Mashadi menggerakkan masyarakat mengadakan penanaman Mangrove sampai saat ini.dan bisa dijadikan destinasi wisata berbasis tanaman mangrove,” tambah Sukarno. (Adv)
Editor: Erika Chairun












