Infoseputarpati.com – Ancaman El Nino semakin nyata dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini nampak dari intensitas kemarau yang panjang bahkan teriknya sinar matahari yang melebihi suhu normal.
Perlu diketahui bahwa El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.
Adanya fenomena ini membuat volume produksi beras di Indonesia terancam. Sehingga Indonesia perlu mengamankan cadangan beras demi ketahanan pangan.
Sementara itu, Pemerintah India diketahui menerapkan kebijakan untuk stop ekspor beras non-basmati. Sedangkan Indonesia membutuhkan impor beras dari negara tersebut.
Selain itu, karena posisi India yang menjadi eksportir 40 persen pasokan beras dunia. Maka langkah penyetopan ekspor India akan memicu naiknya harga bahan pokok tersebut.
Indonesia sendiri memiliki konsumsi domestik yang mencapai 35,3 juta ton per tahun. Guna menutupi konsumsi tersebut, pemerintah pun menugaskan Perum Bulog untuk melakukan importasi sebanyak 2 juta ton beras di tahun ini secara bertahap. Pada tahap I, Bulog telah mengimpor 500 ribu ton dan tahap II 300 ribu ton.
Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal mengaku tak mempermasalahkan langkah India menyetop ekspor tersebut.
“Untuk tahap II belum ada kontrak sama India, kami kontrak sama Thailand dan Vietnam,” jelasnya.
Sedangkan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengaku Indonsia tetap mengandalkan beras dari India. Pemerintah India dan Indonesia disebut telah berkomitmen melakukan kerja sama pasokan beras.
“Ya kita sudah MoU kerja sama, Cuma belum final. Nanti hitungannya impor atau tidak, itu dari Bapanas dan Bulog,” jelasnya.
Importasi diyakini masih perlu dilakukan Indonesia untuk mengamankan cadangan beras karena adanya ancaman badai El Nino.
Meski Indonesia sebenarnya masih mengalami surplus beras sekitar 2,38 juta ton pada 2019 berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Tren surplus itupun berlanjut hingga tahun lalu, dengan volume surplus mencapai 1,34 juta ton. (*)








