Jenis-jenis Gangguan Mental

Penyebab pasti gangguan buatan tidak diketahui, tetapi pemicunya berkaitan dengan faktor biologis dan psikologis. Sebagian besar pasien dengan factitious disorder memiliki riwayat pelecehan, trauma, disfungsi keluarga, isolasi sosial, penyakit medis kronis awal, atau pengalaman profesional dalam perawatan kesehatan.

 

  1. Disosiatif

Disosiatif merupakan interaksi sosial yang mengarah ke bentuk perpecahan atau merenggangkan solidaritas. Beberapa proses disosiatif, yaitu: persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan merupakan bentuk dari interaksi disosiatif yang banyak kita temukan di lingkungan kehidupan kita.

Gejala yang timbul pada penderita Disosiatif;

  • Sering mengalami kilas balik ke peristiwa traumatis
  • Merasa kehilangan kontak dengan peristiwa yang terjadi di sekitar (mirip dengan melamun)
  • Perasaan kosong atau tidak dapat mengingat apa pun untuk jangka waktu tertentu
  • Kehilangan ingatan tentang peristiwa, orang, informasi, atau periode waktu tertentu
  • Merasa terputus atau terlepas dari emosi
  • Merasa bahwa dunia di sekitar tidak nyata dan terdistorsi
  • Merasa mati rasa atau jauh dari diri sendiri dan lingkungan sekitar
  • Merasa waktu dan tempat berubah

Penyebab Disosiatif;

Penyebab paling umum dari kondisi ini adalah kejadian traumatis yang dialami pada masa kecil. Selain itu, kesalahan pola asuh, pernah mengalami kekerasan fisik, serta pelecehan seksual juga bisa meningkatkan risiko seseorang tumbuh dengan gangguan disosiatif.

 

  1. Stress Pasca-Trauma (PTSD)

PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pasca-trauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, dan pelecehan seksual.

Gejala yang timbul pada penderita PTSD;

  • Ingtan pada peristiwa traumatis
  • Kecenderungan untuk mengelak
  • Pemikiran dan perasaan negative
  • Perubahan perilaku dan emosi

Penyebab PTSD;

PTSD bisa muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang menakutkan atau mengancam nyawa. Belum diketahui secara pasti mengapa peristiwa tersebut menyebabkan PTSD bagi sebagian orang. Namun, ada dugaan bahwa penyebabnya adalah kombinasi dari sejumlah kondisi berikut: pengalaman yang tidak menyenangkan, riwayat gangguan mental pada keluarga, kepribadian bawaan yang temperamen.

  1. Depresi

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.

Gejala yang timbul pada penderita Depresi;

  • Mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan
  • Tidak stabil secara emosional
  • Merasa putus asa atau frustrasi
  • Selalu merasa lelah dan tak bertenaga
  • Mengalami pusing dan rasa nyeri tanpa penyebab yang jelas
  • Menurunnya selera makan

Penyebab Depresi;

Depresi lebih sering dialami oleh orang dewasa, dan penyebabnya diduga berhubungan dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Beberapa faktor pemicu terjadinya depresi, di antaranya: mengalami peristiwa traumatis, memiliki penyakit kronis atau serius, mengonsumsi jenis obat tertentu, memiliki riwayat gangguan mental lainnya, memiliki tekanan batin, dan memiliki pola pikir yang salah.

 

  1. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder adalah gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif, sehingga dapat berdampak pada prestasi anak di sekolah.

Gejala yang timbul pada penderita ADHD;

  • Anak banyak melamun
  • Anak pelupa
  • Anak gelisah
  • Terlalu banyak bicara
  • Anak membuat kesalahan yang ceroboh
  • Anak sulit menahan godaan
  • Anak mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain
  • Anak mengalami kesulitan bergiliran atau bergantian

Penyebab ADHD;

Dihimpun dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penelitian saat ini menunjukkan bahwa genetika memainkan peran penting. Studi terbaru tentang gen kembar menghubungkan ADHD. Selain genetika, para ilmuan juga mempelajari kemungkinan penyebab dan faktor risiko lainnya termasuk: riwayat kerusakan otak, paparan kimia tertentu dari lingkungan selama kehamilan, kelahiran premature, berat badan lahir rendah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *